Pages

Jumat, 22 Oktober 2010

Jelang GP Korea Alonso: Red Bull Tetap Favorit

Yeongam - GP Korea memang baru pertama kali dihelat di kalender Formula 1 musim ini. Namun menurut Fernando Alonso, Red Bull tetap jadi favorit untuk menang di sirkuit Yeongam nanti.

Dengan penampilan yang ditunjukkan Mark Webber dan Sebastien Vettel hingga 16 seri berjalan saat ini, jelas duet 'Banteng Merah' itu jadi kandidat terkuat juara dunia musim ini. Selain tentunya Alonso yang setia menguntit di posisi kedua.

Seri ke-17 kali ini diperkirakan tak akan berjalan mudah bagi Red Bull sebab tempat digelarnya adalah sirkuit Yeongam, Korea Selatan yang baru menghelat balapan musim ini. Sirkuit yang baru rampung sekitar dua pekan lalu itu bertipe low grip karena masih baru.

Apalagi sirkuit sepanjang 5,261 meter itu memilik tiga trek lurus panjang yang tak begitu bersahabat bagi Red Bull.  Hal itulah yang dinilai Alonso sebagai salah satu cara untuk bisa menandingi kecepatan mobil RB6 milik Webber dan Vettel, meskipun ia masih memprediksi rivalnya itu pasti dominan dalam lomba.

Dalam dua latihan sesi bebas hari ini, Red Bull baru bisa berjaya di sesi latihan bebas kedua di mana Webber jadi yang tercepat.

"Di hari Jumat normalnya kita tidak melihat waktu latihan. Namun yang kami rasakan atau ketahui bahwa ini adalah trek Red Bull dan itu bisa dilihat pada Hari Sabtu serta Minggu," tutur Alonso di Autosport.

"Seperti yang kukatakan hari Jumat tak begitu penting. Namun kami rasa Red Bull tak meraih kemenangan semudah di Suzuka meskipun mereka masih jadi favorit di sini," sambungnya.

Di seri terakhir di GP Jepang, Red Bull mendominasi balapan dengan Vettel dan Webber finis posisi satu-dua. Bagaimana dengan di GP Korea ini? Kita saksikan saja.

Sumber : Mohammad Resha Pratama – detiksport
Foto : Mark Webber (Getty Images/Mark Thompson)


Pertahankan Dinding Pemisah, Yamaha?
Jakarta - Dalam tiga musim terakhir, Yamaha membangun tembok pembatas di antara dua rider-nya. Hasilnya positif. Apakah strategi serupa bakal dipakai musim depan?

Dengan adanya dinding pemisah, maka boleh dikatakan bahwa dua pembalap Yamaha bekerja sendiri-sendiri. Masing-masing memiliki kru sendiri dan berhak untuk mengembangkan sendiri.

Dinding pemisah memberikan hasil baik bagi Yamaha. Tiga tahun berturut-turut, pabrikan asal Jepang ini berhasil meraih juara konstruktor. Dikutip dari situs resmi MotoGP, mereka menjadi tim pertama di ajang MotoGP yang menyabet hattrick gelar konstruktor.

Meski memberikan hasil baik, namun dinding pemisah tidak jarang mendatangkan complain dari pembalapnya. "Saya tidak suka tembok itu. Saya berharap lebih dari Rossi dari sisi manusia, daripada pertukaran pertukaran informasi teknis yang lebih besar," kata Jorge Lorenzo Agustus silam.

Musim depan, formasi pembalap Yamaha berganti. Mereka akan tampil dengan duet Lorenzo-Ben Spies.

Apakah strategi dinding pemisah kembali dipakai? "Kami menggunakan strategi tersebut selama tiga musim terakhir dan kami memenangi segalanya, jadi menurut saya pribadi tidak ada hal negatif dengan strategi itu," ujar bos Yamaha Lin Jarvis dilansir Motorcycle News.

"Dinding pemisah memungkinan pembalap dan mekanik untuk fokus dengan pekerjaannya dan sungguh penting bagi individu pembalap. Mungkin (musim depan) kami tetap memasang partisi pemisah itu," tuntas Jarvis.

Kebijakan dinding pemisah mulai digunakan Yamaha tahun 2008 untuk menjaga agar tidak ada kebocoran data antara Michelin dan Bridgestone. Ketika itu duo Yamaha Rossi dan Lorenzo menggunakan ban yang berbeda.

Di tahun 2009 ketika MotoGP menetapkan pemasok tunggal, The Doctor meminta agar dinding pemisah itu tetap diberlakukan dan itu berlangsung hingga musim ini.

Sumber : Narayana Mahendra Prastya – detiksport
foto : renantania.wordpress.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar