Jakarta - Tiga tahun silam gelar juara yang ada di depan mata McLaren melayang di seri terakhir. McLaren berharap peristiwa tahun 2007 terulang dan tentu saja kali ini mereka berharap menjadi yang mendapat berkah.
Di tahun 2007, Lewis Hamilton memimpin klasemen sementara hingga balapan seri terakhir yakni GP Brasil. Namun akibat mengalami masalah girboks, pembalap McLaren itu harus puas finis ketujuh.
Hasil ini membuat gelar juara yang sudah di depan mata Hamilton sirna. Ia harus rela menyaksikan Kimi Raikkonen, yang memenangi balapan, menyabet gelar juara dunia. Padahal sebelum balapan pembalap Ferrari itu memiliki kans paling kecil untuk juara dunia. Yang cukup menyesakkan, poin akhir Hamilton di klasemen hanya tertinggal satu angka dari Kimi.
McLaren berharap situasi tiga tahun silam bisa terulang di musim ini dengan harapan giliran tim asal Inggris tersebut yang mendapatkan "berkah". Menilik klasemen sementara, duo McLaren Lewis Hamilton dan Jenson Button memiliki kans paling kecil untuk menjadi juara.
"Hal-hal aneh telah terjadi, tentu saja. Ketika Kimi Raikkonen juara dunia, ketika itu Lewis Hamilton tampaknya yang bakal menjadi juara. Ia hanya membutuhkan sekitar dua poin dari dua balapan," ujar Button dikutip dari Planet-F1.
Pembalap Inggris itu mengatakan, selain berharap pada keajaiban, McLaren juga harus bisa memaksimalkan seri berikutnya yakni GP Korea.
"Kini situasinya lebih sulit bagi kami. Bila kami tidak bisa mengalahkan Red Bull di Korea, maka harapan itu (pembalap McLaren juara dunia) sudah praktis tidak mungkin lagi," ujar Button.
Tugas McLaren tentu saja menjadi yang paling berat. Selain posisi di klasemen, Button mengungkapkan masih ada sejumlah kendala yang dihadapi timnya.
"Ada banyak pembalap bertarung di posisi papan atas dan kami ada di belakang. Kami tidak bisa berusaha lebih keras lagi. Saya tidak pernah melihat banyak sekali spare part dipasang pada mobil di setiap balapan, namun kami tidak cukup cepat," pungkas juara dunia 2009 itu.
Di tahun 2007, Lewis Hamilton memimpin klasemen sementara hingga balapan seri terakhir yakni GP Brasil. Namun akibat mengalami masalah girboks, pembalap McLaren itu harus puas finis ketujuh.
Hasil ini membuat gelar juara yang sudah di depan mata Hamilton sirna. Ia harus rela menyaksikan Kimi Raikkonen, yang memenangi balapan, menyabet gelar juara dunia. Padahal sebelum balapan pembalap Ferrari itu memiliki kans paling kecil untuk juara dunia. Yang cukup menyesakkan, poin akhir Hamilton di klasemen hanya tertinggal satu angka dari Kimi.
McLaren berharap situasi tiga tahun silam bisa terulang di musim ini dengan harapan giliran tim asal Inggris tersebut yang mendapatkan "berkah". Menilik klasemen sementara, duo McLaren Lewis Hamilton dan Jenson Button memiliki kans paling kecil untuk menjadi juara.
"Hal-hal aneh telah terjadi, tentu saja. Ketika Kimi Raikkonen juara dunia, ketika itu Lewis Hamilton tampaknya yang bakal menjadi juara. Ia hanya membutuhkan sekitar dua poin dari dua balapan," ujar Button dikutip dari Planet-F1.
Pembalap Inggris itu mengatakan, selain berharap pada keajaiban, McLaren juga harus bisa memaksimalkan seri berikutnya yakni GP Korea.
"Kini situasinya lebih sulit bagi kami. Bila kami tidak bisa mengalahkan Red Bull di Korea, maka harapan itu (pembalap McLaren juara dunia) sudah praktis tidak mungkin lagi," ujar Button.
Tugas McLaren tentu saja menjadi yang paling berat. Selain posisi di klasemen, Button mengungkapkan masih ada sejumlah kendala yang dihadapi timnya.
"Ada banyak pembalap bertarung di posisi papan atas dan kami ada di belakang. Kami tidak bisa berusaha lebih keras lagi. Saya tidak pernah melihat banyak sekali spare part dipasang pada mobil di setiap balapan, namun kami tidak cukup cepat," pungkas juara dunia 2009 itu.
Sumber : Detiksport
Foto : Reuters

Tidak ada komentar:
Posting Komentar